Senin, 08 Juni 2015

Viking zombie arahan indramayu

Masih pada semangatkah viking ZOMBIE? Jangan pernah kau padamkan semangatmu biarkan terus menyala hingga PERSIB menjadi yang terbaik dan tak terkalahkan sampai kapanpun dan tunjukkan pada semuanya bahwa PERSIB tak terkalahkan
salam damai buat seluruh BOBOTOH senusantara.


Go PERSIB go...........go.......go......gooooo


Jumat, 23 Januari 2015

VZI Viking Zombie Independent

Semangat terus buat para Viking Zombie independent didesa Arahan kabupaten indramayu jangan pernah lelah untuk tetap terus mendukung PERSIB dan jangan pernah takut dengan lawan atau musuh yang menghadang hadapi dengan sekuat para BOBOTOH.
jangan ada kata menyerah buat MAUNG BANDUNG jangan pernah menyerah juga buat para Viking Zombie Independent.........tunjukan semangat kalian buat PERSIB.
Semoga PERSIB ditahun berikutnya PERSIB menang dan membawa semangat baru buat para Viking Zombie Independent dan BOBOTOH se_NUSANTARA...........AMIN
Go PERAIB Go......

kata maaf buat para bobotoh senusantara dari aku

aku tak akan pernah lelah meskipun didepan sana masih banyak yang akan menghadang dikehidupan aku...........aku juga tak akan pernah menyerah tuk tetap tegar dalam menjalani kehidupan ini......aku tau dan aku sadar akan bodohnya diriku dan begitu tololnya otak dan pikiranku,yang slalu ingin menang sendiri tak perdulikan perasaan oarang lain.......buat semua orang yang kenal aku atau yang pernah aku sakiti,aku hina,aku ludahi kalian,aku minta maaf,aku salah,aku kini hanya bisa memohoon maaf pada kalian,hanya itu yang bisa aku lakukan........aku tak tahu lagi harus bagaimana menghalangi pikiranku yang slalu senang dengan melakukan kekerasan....dan mulai saat ini aku tak ingin lagi melakukan semua itu....aku harus bangkkit,aku harus berubah,tak mungkin aku akan selamanya hidup menghina orang,menyakiti orang.....aku sadar aku bukan orang kaya,atau anak seorang pejabat......maafkan aku kawan.....maafkan aku juga sobat,aku tak bisa selamanya mengikuti jejak kalian aku sudah tak mau loagi dicap jelek pada semua orang,aku tak mau bukan berarti aku tak berani melainkan aku tak ingin selamanya hidup terus begini....aku ingin berubah seperti orang lain yang punyya masa depan dan punya pekerjaan tetap yang mungkin kan indah pada waktunya juga bisa memberi nafkah pada orang tua anak dan istrinya nanti..........selamat jalan kawan....selamat tinggal buat kalian yang udah pernah ada dikehidupan aku....aku tak akan pernah melupakan kalian.......salam buat para PERSIB SENUSANTARA.......aku sayang kalian tapi aku tak ingin kehidupan aku mati dan tak berarti apa-apa dimata orang tuaku......sorry guyes......aku pergi dan aku hengkang dari dunia kalian,tapi tetap mendukung PERSIB karena PERSIB adalah jiwa raga kami.........

cerita malin kundang

Once upon a time, in the coastal area of Sumatra, lives a poor family. The family had a kid named Malin Kundang. Due to very poor condition of their families, Malin kundang's father decided to go to the country side.
Malin kundang and his mother hope that he could bring some money and support their daily needs. Time after time, they wait for him, but he did not come. They even believed that he is already dead.
Feeling sad, Malin kundang thought that he could make a living in the country side in the hope that later on when returning to my hometown; he has become a very rich. Finally Malin kundang go sailing along with a merchant ship captain in his hometown that has been successful.
Kehidupan Malin Kundang Sebagai Pelaut
During his stay on the ship, Malin kundang lot to learn about seamanship on the crew that has been experienced. Malin studied hard on his friends shipping on more experienced, and ultimately he's very good at shipping.
Many islands have been, up to a day in the middle of the trip, suddenly Malin kundang ships were attacked by pirates. All merchandise traders who were on the ship seized by pirates. Even most of the crew and people on the ship were killed by the pirates. Malin kundang very lucky he was not killed by the pirates, because when it happened, Malin immediately hid in a small space enclosed by the timber.
Malin Kundang floats amid sea, until finally the host ship stranded on a beach. With the rest of the existing power, Malin Kundang walked to the nearest village from the beach. Arriving in the village, Malin Kundang told the ntives about the incident that happened to him. Malin village where villagers stranded is very fertile. With tenacity and perseverance in work, over time Malin had become a very rich. He has many fruit merchant ships with the children of more than 100 people. After becoming rich, Malin Kundang marry a girl to become his wife.
Kembalinya Malin
After a long marriage, Malin and his wife make the voyage with a large and beautiful ship with the crew and a lot of bodyguards. Malin kundangs wife want to know his husbands hometowns. In the other side, poor Malin kundang mothers was worried about his son, and goes to the beach everyday, hope that her son will be back from the journey. She saw a very beautiful ship landed on the town harbour. Malin's mother who always checks every ship that arrived, hoping there is his son among the passenger, surprised to see a man. She founds out that he is her son Malin kundang.
Malin Kundang stepped down from the ship. Once close enough, his mother saw the birthmarks on Malin kundangs arm. She is now convinced that Malin is her son. Missed so much, she hug his son and asked "Malin Kundang, my son, why did you go so long without sending any news to me?". Arrogantly, Malin immediately released her mother's arms and pushed him up to fall. "Old women, I do not know who you are" said Malin Kundang at his mother. Malin Kundang pretended not to recognize her mother, because of shame with her mother who is old and wearing tattered clothes. "She was your mother?" Malin's wife asks him. "No, he was just a beggar who pretended to be admitted as a mom to get my property".
Kutukan Ibu Malin
Hearing statement and treated arbitrarily by his son, the mother of Malin kundang is very angry. He did not expect him to be rebellious child. Because anger is mounting, Malin's mother tipped his hand, saying "Oh God, if he my son, I curse him became a stone." Malin's mother goes away with sad feelings. Knowing that his only son, which she always loves and missed all days, come and treat her like that.
Malin kundang and his crew departed shortly after visiting the hometown.Soon after departed, the calm, nice weather suddenly changed. The winds roared fierce and storms come to destroy the ship Kundang. Malin himself knows that it might be the curse from his own mother. That makes Malin prays, to beg a mercy from the God. The ship are destroyed and dumped into the beach. Malin's body and the shipwrecks scattered. After that Malin' body slowly becomes rigid and in time they finally shaped into a rock. Malin's mothers feel sorry about her son's fate. But it was too late.
In moslem tradition, it is believed that prays from the parents are easily granted by God, either bad or goods. This story told people to be humbles and do not forget his family after being successful, the story also told the parents that they must not easily pray a bad things to their children, and guide their children with care and lots of patients
https://twitter.com/vino_santeria

pilihan orang tuamu Vino Ade Santeria

Sabtu, 10 Januari 2015

Viking Zombie Indramayu

arahan-indramayu-jawa barat - Jadilah bobotoh cerdas, bobotoh yang tidak merugikan Persib Bandung. Sudah tidak zaman rusuh sudah tidak zaman Persib rugi gara-gara suporter.

Itulah pesan dari suporter Persib di Tanah jawa terutama didaerah Arahan, indramayu jawa barat yang tergabung di Viking korwil indramayu (VIDI).

"Ya seperti itu, tidak perlu lagi berbuat aneh-aneh yang merugikan Persib," kata Josep, Ketua Viking Arahan kepada Radar Indramayu,Kamis (8/1/2015).

Para bobotoh Persib di Indramayu,umumnya berasal dari Bandung. Mereka bekerja di tanah rantauannya selama belasan tahun. Setiap Persib berlaga di Indramayu, mereka selalu datang.

Tidak hanya itu, mereka juga selalu hadir di laga tim tuan rumah, PERSINDRA tapi bukan maksud pindah ke lain hati.

"Kami suka nonton PERSINDRA main. Bukan mau gimana-gimana, cuma mau memperkenalkan diri saja ke masyarakat indramayu. Supaya nanti ketika Persib main ke Indramayu, masyarakat Indramayu jadi terbiasa," ujar pria asal Cigondewah Kota Bandung tersebut.

Saat ini, tim Maung Bandung menjajal PPERSINDRA melakoni turnamen Piala Walikota indramayu. Dalam dua laga terakhir babak penyisihan grup A, Persib berhasil menaklukan PSP Padang dan Pusamania Borneo FC (PBFC).

Dalam dua laga itu, Viking Arahan selalu hadir di stadion. Meski memang jumlahnya tidak memenuhi seisi stadion.

"Viking Arahan ini anggotanya tidak hanya dari Arahan saja, tapi dari setiap desa-desa lainnya juga yang diwilayah indramayu. Dan setiap laga Persib di indramayu, pasti kami kejar," ujar Josep.
Hingga kini, Viking Arahan ini menghimpun sekitar 500-an anggota. "Tapi itu yang memiliki kartu anggota. Kalau yang belum masih banyak," ujar Josep Santeria.(men)

Selasa, 23 Desember 2014

viking korwil arahan

Dari para bobotoh diindramayu korwil arahan memberi dukungan sorak sorai kemenangan pun membahana usai Ferdinand Sinaga dan kawan-kawan berhasil mengandaskan rival mereka
dan pesta kemenanganpun dimeriahkan keliling kota indramayu dengan mengibarkan bendera PERSIB yang besar.............saat itu juga para bobotoh korwil arahan memadati jalan dialun-alun kota indramayu juga disepanjang jalan...........mereka tak henti-hentinya berteriak bertepuk tangan atas kemenangan PERSIB...........merekapun berharap kedepannya PERSIB akan menjadi juara lagi ditahun depan nanti......semangat terus buat PERSIB SEJAGAT RAYA......terutama buat VIKING KORWIL ARAHAN
VIKAR VIKING ARAHAN  










Sejarah Persib

Sebelum bernama Persib Bandung, di Kota Bandung berdiri Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB) pada sekitar tahun 1923. BIVB ini merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis pada masa itu. Tercatat sebagai Ketua Umum BIVB adalah Mr. Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pejuang wanita Dewi Sartika, yakni R. Atot.
Atot pulalah yang tercatat sebagai Komisaris Daerah Jawa Barat yang pertama. BIVB memanfaatkan lapangan Tegallega di depan tribun pacuan kuda. Tim BIVB ini beberapa kali mengadakan pertandingan di luar kota seperti Yogyakarta dan Jatinegara, Jakarta.
Pada tanggal 19 April 1930, BIVB bersama dengan VIJ Jakarta, SIVB (sekarang Persebaya), MIVB (PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), VVB (Persis Solo), dan PSM (PSIM Yogyakarta) turut membidani kelahiran PSSI dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta. BIVB dalam pertemuan tersebut diwakili oleh Mr. Syamsuddin. Setahun kemudian kompetisi tahunan antar kota/perserikatan diselenggarakan. BIVB berhasil masuk final kompetisi perserikatan pada tahun 1933 meski kalah dari VIJ Jakarta.
BIVB kemudian menghilang dan muncul dua perkumpulan lain yang juga diwarnai nasionalisme Indonesia yakni Persatuan Sepak bola Indonesia Bandung (PSIB) dan National Voetball Bond (NVB). Pada tanggal 14 Maret 1933, kedua perkumpulan itu sepakat melakukan fusi dan lahirlah perkumpulan yang bernama Persib yang kemudian memilih Anwar St. Pamoentjak sebagai Ketua Umum. Klub-klub yang bergabung ke dalam Persib adalah SIAP, Soenda, Singgalang, Diana, Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA, dan Merapi.
Persib kembali masuk final kompetisi perserikatan pada tahun 1934, dan kembali kalah dari VIJ Jakarta. Dua tahun kemudian Persib kembali masuk final dan menderita kekalahan dari Persis Solo. Baru pada tahun 1937, Persib berhasil menjadi juara kompetisi setelah di final membalas kekalahan atas Persis.
Di Bandung pada masa itu juga sudah berdiri perkumpulan sepak bola yang dimotori oleh orang-orang Belanda yakni Voetbal Bond Bandung & Omstreken (VBBO). Perkumpulan ini kerap memandang rendah Persib. Seolah-olah Persib merupakan perkumpulan "kelas dua". VBBO sering mengejek Persib. Maklumlah pertandingan-pertandingan yang dilangsungkan oleh Persib ketika itu sering dilakukan di pinggiran Bandung, seperti Tegallega dan Ciroyom. Masyarakat pun ketika itu lebih suka menyaksikan pertandingan yang digelar VBBO. Lokasi pertandingan memang di dalam Kota Bandung dan tentu dianggap lebih bergengsi, yaitu dua lapangan di pusat kota, UNI dan SIDOLIG.
Persib memenangkan "perang dingin" dan menjadi perkumpulan sepak bola satu-satunya bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya. Klub-klub yang tadinya bernaung di bawah VBBO seperti UNI dan SIDOLIG pun bergabung dengan Persib. Bahkan VBBO (sempat berganti menjadi PSBS sebagai suatu strategi) kemudian menyerahkan pula lapangan yang biasa mereka pergunakan untuk bertanding yakni Lapangan UNI, Lapangan SIDOLIG (kini Stadion Persib), dan Lapangan SPARTA (kini Stadion Siliwangi). Situasi ini tentu saja mengukuhkan eksistensi Persib di Bandung.
Ketika Indonesia jatuh ke tangan Jepang, kegiatan persepak bolaan yang dinaungi organisasi dihentikan dan organisasinya dibredel. Hal ini tidak hanya terjadi di Bandung melainkan juga di seluruh tanah air. Dengan sendirinya Persib mengalami masa vakum. Apalagi Pemerintah Kolonial Jepang pun mendirikan perkumpulan baru yang menaungi kegiatan olahraga ketika itu yakni Rengo Tai Iku Kai.
Tapi sebagai organisasi bernapaskan perjuangan, Persib tidak takluk begitu saja pada keinginan Jepang. Memang nama Persib secara resmi berganti dengan nama yang berbahasa Jepang tadi. Tapi semangat juang, tujuan dan misi Persib sebagai sarana perjuangan tidak berubah sedikitpun.
Pada masa Revolusi Fisik, setelah Indonesia merdeka, Persib kembali menunjukkan eksistensinya. Situasi dan kondisi saat itu memaksa Persib untuk tidak hanya eksis di Bandung. Melainkan tersebar di berbagai kota, sehingga ada Persib di Tasikmalaya, Persib di Sumedang, dan Persib di Yogyakarta. Pada masa itu prajurit-prajurit Siliwangi hijrah ke ibukota perjuangan Yogyakarta.
Baru tahun 1948 Persib kembali berdiri di Bandung, kota kelahiran yang kemudian membesarkannya. Rongrongan Belanda kembali datang, VBBO diupayakan hidup lagi oleh Belanda (NICA) meski dengan nama yang berbahasa Indonesia Persib sebagai bagian dari kekuatan perjuangan nasional tentu saja dengan sekuat tenaga berusaha menggagalkan upaya tersebut. Pada masa pendudukan NICA tersebut, Persib didirikan kembali atas usaha antara lain, dokter Musa, Munadi, H. Alexa, Rd. Sugeng dengan Ketua Munadi.
Perjuangan Persib rupanya berhasil, sehingga di Bandung hanya ada satu perkumpulan sepak bola yakni Persib yang dilandasi semangat nasionalisme. Untuk kepentingan pengelolaan organisasi, dekade 1950-an ini pun mencatat kejadian penting. Pada periode 1953-1957 itulah Persib mengakhiri masa pindah-pindah sekretariat. Wali Kota Bandung saat itu R. Enoch, membangun Sekretariat Persib di Cilentah. Sebelum akhirnya atas upaya R. Soendoro, Persib berhasil memiliki sekretariat Persib yang sampai sekarang berada di Jalan Gurame.
Pada masa itu, reputasi Persib sebagai salah satu jawara kompetisi perserikatan mulai dibangun. Selama kompetisi perserikatan, Persib tercatat pernah menjadi juara sebanyak empat kali yaitu pada tahun 1961, 1986, 1990, dan pada kompetisi terakhir pada tahun 1994. Selain itu Persib berhasil menjadi tim peringkat kedua pada tahun 1950, 1959, 1966, 1983, dan 1985.
Keperkasaan tim Persib yang dikomandoi Robby Darwis pada kompetisi perserikatan terakhir terus berlanjut dengan keberhasilan mereka merengkuh juara Liga Indonesia pertama pada tahun 1995. Persib yang saat itu tidak diperkuat pemain asing berhasil menembus dominasi tim tim eks galatama yang merajai babak penyisihan dan menempatkan tujuh tim di babak delapan besar. Persib akhirnya tampil menjadi juara setelah mengalahkan Petrokimia Putra melalui gol yang diciptakan oleh Sutiono Lamso pada menit ke-76.
Sayangnya setelah juara, prestasi Persib cenderung menurun. Puncaknya terjadi saat mereka hampir saja terdegradasi ke Divisi I pada tahun 2003. Beruntung, melalui drama babak playoff, tim berkostum biru-biru ini berhasil bertahan di Divisi Utama.
Sebagai tim yang dikenal baik, Persib juga dikenal sebagai klub yang sering menjadi penyumbang pemain ke tim nasional baik yunior maupun senior. Sederet nama seperti Risnandar Soendoro, Nandar Iskandar, Adeng Hudaya, Heri Kiswanto, Ajat Sudrajat, Yusuf Bachtiar, Dadang Kurnia, Robby Darwis, Budiman, Nur'alim, Yaris Riyadi hingga generasi Erik Setiawan dan Eka Ramdani merupakan sebagian pemain timnas hasil binaan Persib.Sampai saat ini Persib Bandung adalah tim Indonesia yang bisa di bilang paling dibanggakan oleh Indonesia karena prestasi dan kemampuannya.